OPEN MIND

belajar mengasah pikiran, hati dan rasa melalui goresan tinta

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Cara Abu Nawas Merayu Tuhan (11)

20.23 by , under ,

image Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

***

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).

Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

juga dengan postingan ini, saya mo pajang award kedua dari pa Sukadi lewat bu Winny. semoga award ini mampu menjadi tambatan jalinan persahabatan.

image

maaf bu winny, baru bisa pajang. terima kasih.

READ MORE - Cara Abu Nawas Merayu Tuhan



edit post

Ketegasan yang Membahagiakan (10)

13.26 by , under ,

jejak-kakiTuhan Maha Mendengar, maka kita menjaga   agar hati dan mulut kita hanya menyuarakan yang baik.

Tuhan Maha Mengetahui, maka kita menjaga agar pikiran kita hanya terlibat dalam analisa, rencana, dan rancangan yang baik.

Tuhan Maha Melihat, maka kita menjaga agar diri kita hanya melakukan yang baik-baik.

Perubahan kualitas hidup seseorang sepenuhnya adalah hak Tuhan.

Jika keluhan kita penuh berisi ketidak-nyamanan, kekurangan, kesulitan, dan keterbatasan dalam hidup – akan indah sekali jika kita menengadahkan wajah, membuka telapak tangan, dan melamatkan ratapan hati kita ke langit – ke arah kerajaan langit yang sistem pemerintahannya di tata dalam keterhubungan langsung antara setiap jiwa dengan Tuhan-nya Yang Maha Berkuasa.

Ya ..., langsung - antara satu jiwa dengan Tuhan-nya.

Dan,

Untuk setiap jiwa yang sedih, Tuhan Yang Maha Mendengar sedang menanti ketulusan keluhannya, yang termasuk mengakui perannya sendiri dalam mendekatkan dirinya dengan yang menyedihkannya.

Untuk setiap jiwa yang merasa diperlakukan tidak adil, Tuhan Yang Maha Adil sedang menanti pengertiannya untuk ikhlas menerima keadaan yang diijinkan oleh Tuhan untuk terjadi, dan juga berlaku adil kepada sesama dan kepada Tuhan.

Untuk setiap jiwa yang marah, Tuhan Yang Maha Perkasa sedang menanti keterbukaannya bahwa kemarahannya adalah tenaga yang harus digunakan untuk memindahkan dirinya sendiri dari sikap-sikap dan cara-cara yang memarahkan, dan naik kelas ke keadaan-keadaan yang lebih baik.

Untuk setiap jiwa yang pedih karena perendahan oleh orang lain, Tuhan Yang Maha Memuliakan akan menemaninya dalam perjalanan tenggelam dalam kesedihannya, menemuinya di dasar kesedihannya, dan dengan penuh kasih akan menyisipkan kekuatan yang magis kedalam pikiran, hati, dan otot-ototnya untuk bangkit dan menghadapi perendahan dengan gagah berani - sebagai jiwa yang berhak bagi kemuliaan, yang menyandarkan harapannya bagi kemuliaan diri hanya kepada Tuhan Yang Maha Mulia.

Dan untuk setiap jiwa yang hampir menyerah, Tuhan Yang Maha Penolong akan mendekatkan telinga dari jiwa yang hampir menyerah itu kepada suara-suara yang menasehati, menampilkan teladan baik bagi penglihatannya, dan memasukkannya kedalam pergaulan dengan orang yang menyabarkan diri dan kemudian dimuliakan karena kesabarannya.

Marilah kita mengkekasihkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Memaafkan, yang dengan pemaafan-Nya kita akan dimuliakan dengan kehidupan yang sejahtera, yang penuh kebahagiaan, dan yang cemerlang.

Maha Besar Engkau dengan segala ilmu-Mu,

Maha Besar Engkau yang telah menetapkan hati ini pada lingkar kuasaMu

Maha Besar Engkau yang telah menetapkan hati ini pada jalan suciMu

----------------------------

Catatan diatas adalah penggalan supernote Pak Mario Teguh (founder MTSuperClub)  sebagai sarana sharing antar teman blogger dalam jalinan silaturrahim di dunia maya......

Salam Silaturrahim, Salam Persahabatan

Technorati Tags: ,
READ MORE - Ketegasan yang Membahagiakan



edit post

munajat. dan doa (2)

21.05 by , under

Bila aku mati karena cintanya, aku hidup
karena dia.
Lewat penyangkalan diri dan
melimpahnya kemiskinanku.
Inilah cinta, nafsuku bukan benda nyata.
Dan ia yang fana mesti memilih-nya jika
sedang tergila-gila.
Hidup adalah lamunan bebas, bagi cinta
adalah duka.
Mula-mula terasa sakit, lalu mati,
namun maut adalah milik nafsu cinta.
Ia hidup dimana kekasihku melimpahkan
berkah sebagai rahmat.
Jika perpisahan adalah upah yang
kuperoleh darimu.
Dan tiada jarak lagi antara kita,
kau sebut perpisahan sebagai persatuan.
Tiada penolakan selain cinta,
selama kau tak membencinya.
Dan rasa enggan, kesukaran apa pun
akan mudah dipikul.
Derita yang menyiksa kita terasa nikmat.
Ketakadilan yang diperbuat cinta
adalah keadilan dan kesabaranku,
tanpa kau dan denganmu akan
menjadikan yang pahit terasa manis
bagiku.

--diadopsi dari syair Ibnu Farid dengan perubahan judul--
READ MORE - munajat. dan doa



edit post

Hidup Hanya Sekali (3)

13.11 by , under

hidup hanya sekali
mengapa kita abaikan diri
menjauh dari Sang Ilaahi
padahal kita
hanya seorang yang hina diri

sekali hidup
hiduplah yang berarti

sebagai hamba
yang slalu tahu diri
akan Jati Diri
Sang Ilaahi

hidup hanyalah sekali
tiada lagi untuk kedua kali

hidup hanya sekali
hiduplah yang berarti
karna nafasmu
langkah menuju ajalmu

ajal adalah mati
matilah dengan penuh arti
dengan kembali
pada Pencipta Insani

READ MORE - Hidup Hanya Sekali



edit post